Kamis, 13 September 2007

Gempa Sentuh Jakarta

" Gemmppaaa....7,9 SR...........Gempaaaa........gempa...."

Teriakkan itu menjadi awal getaran yang terasa hingga di kota Jakarta. Pusat Gempa Tektonik ini berasal di daerah Bengkulu pada jam 18.00 wib. Saat itu sebagian karyawan di daerah Jakarta sudah pada pulang ke rumah, karena malam itu adalah malam pertama Tarawehan. DKI Jakarta yang penuh dengan gedung-gedung tinggi tentu saja merasakan effek dari Gempa tektonik tersebut. Menurut teman-teman sekantor ku yang pada malam kejadian tersebut masih berada di dalam gedung, bahwa pada saat gempa itu menyapu kota Jakarta, "terasa benar getarannya hingga mengarah ke kiri dan kanan. Kemudian barang-barang yang berada di atas bergerak... pintu dan kaca bergetar.... langsung aja kami keluar dan menuju pintu darurat. Bayangkan dari lantai 25 hingga lantai dasar melalui tangga darurat karena takut melalui Lift" tutur teman ku.
Dan Malam harinya, bapak, emak dan keluarga yang laen juga pd khawatir. Berkali-kali mereka menelpon ku, untuk memastikan keselamatan ku di Jakarta.

Pagi yang menghebohkan!!
Seperti biasa, kedatangan ku di BII Tower lebih kurang jam 7.15 wib Pagi. Namun aku bingung karena banyak karyawan yang berada di lantai dasar. Biasanya pagi-pagi begini, terasa sepi karena mereka pada masuk ke kantor mereka masing-masing. Melalui Internet di kantor, akhirnya ku tahun jawabannya. Saat jam 07.00 wib, terjadi lagi gempa tektonik. Kali ini berlokasi di Jambi dengan 5,5 SR. Gempa tersebut membuat beberapa karyawan di daerah Jakarta yang berkantor di gedung-gedung tinggi pada bertahan di lantai bawah dan nggak berani untuk masuk kedalam gedung, karena gempa pagi itu terasa dan membuat gedung sebagai tampak retak.

Namun di awl Ramadhan ini, kita harusnya tetap berdo'a dan bersyukur atas keselamatan serta hidayah yang Ia berikan. Semoga Fenomeda alam ini membawa hikmah dan pembelajarn bagi kita semua. Dan Kelurga yang ada di Pontianak dan sekitarnya... jangan khawsatir lagi yachhh

Ramadhan 1428 H / 2007 M

Marhaban Ya Ramadhan….

Bulan suci Ramadhan datang kembali. Rasulullah SAW dan para sahabat, selalu menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan kalimat: “Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang wahai Ramadhan.”

Rasulullah, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia mengikuti jejak risalah Islamiyah sampai akhir zaman, selalu menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan penuh suka cita, dan menangis saat ditinggalkan bulan Ramadhan.

Karena keistimewaannya, inilah bulan yang selalu dinantikan kehadirannya oleh umat Islam di seluruh dunia.

Pada bulan ini seluruh umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Pada bulan ini, Al−Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dengan yang batil, diturunkan untuk seluruh umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah dan pelipatgandaan ganjarannya. Pada bulan ini, rahmat dan ampunan Allah dibuka seluas−luasnya, dan pintu neraka ditutup rapat−rapat.

Sebelas bulan yang lalu, kita menjalani kehidupan yang hingar bingar. Kini tiba saatnya untuk kembali merenungi hakikat keberadaan kita di dunia, dengan memugar kembali potensi iman di dada melalui peningkatan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dengan ibadah shaum Ramadhan, umat Islam disadarkan kembali mengenai hakikat Ihsan, yakni menyembah Allah seakan−akan kita melihat−Nya, dan sesungguhnya memang Allah melihat kita.

Jika saja, seluruh umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini, mampu melestarikan sikap mental menghadirkan Allah pada segenap aspek hidup dan kehidupannya, pastilah bangsa ini tidak perlu mengalami krisis multidimesional berkepanjangan seperti yang kita alami sekarang.

Dengan seruan menegakkan shalat berjama’ah (shalat Taraweh), memperbanyak Do'a kepada Allah, Qiyamullail, Tadarus Al−Qur’an, memperbanyak Shadaqah, dan menunaikan Zakat Fitrah sebagai bagian integral dari amaliahnya, Ramadhan tidak hanya membina dan mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga mendesak umat Islam untuk mewujudkan kesalehan sosial.

Melalui bulan Ramadhan, umat Islam disegarkan kembali komitmennya pada ajaran sejati Islam sebagai pengemban missi rahmatan lil’alamin.

Oleh karena itu, Ramadhan sesungguhnya sarana awal untuk mengukuhkan kembali jati diri Muslim, memasuki hari−hari panjang pada sebelas bulan sesudah Ramadhan. Hanya mereka yang mampu melestarikan dan mengembangkan seluruh gemblengan selama Ramadhan pada sebelas bulan sesudah bulan suci inilah, yang berhak meraih predikat muttaqin, seperti digambarkan dalam Q.S.Al−Baqarah ayat 183: “Wahai orang−orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada kaum sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang−orang yang bertaqwa.”

Sangat logis sabda Rasulullah saw yang menyatakan bahwa siapapun yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, semata−mata berdasarkan keimanan dan mengharap ridha Allah (iimaanan wahtisaaban), akan diampuni seluruh dosa−dosanya yang telah lalu.

Hanya mereka yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan secara demikian sajalah, yang kelak akan kembali ke fitrah sejati kemanusiaannya (’Idul fitri) yang hanif: selalu memihak kepada kebaikan, kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

Tentu tidak mudah untuk meraih predikat seperti di atas. Bahkan, bukan tidak mungkin kita terkena sabda Rasul yang lain: “Betapa banyak mereka yang melaksanakan puasa, tidak memperoleh ganjaran apa−apa, kecuali lapar dan dahaga.”

Hal tersebut antara lain karena pada hakikatnya, seperti digambarkan dalam Q.S. Al−Hijr dan At−Tiin, manusia adalah muhajir (pengembara) di antara kebaikan dan keburukan.

Marilah kita manfaatkan dengan sungguh−sungguh momentum bulan Ramadhan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas keimanan umat Islam Indonesia yang dibuktikan dengan meningkatnya kualitas kesalehan sosial, sehingga makin menumbuhsuburkan misi utama ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Marhaban ya Ramadhan….. Mohon Maaf Lahir dan Bathin